Antara CB Motor & CB Mandor

CB yang dikenal selama ini dengan sepeda motor antara tahun 1973 hingga 1977 an, masyarakat indonesia hingga dunia cukup mengenal prosuk otomotif klasik ini. Tahukah nama CB juga sebuah profesi di dunia nyata terutama yang berdomisili di Solo Jawa Tengah yakni satuan keamanan untuk kebon tebu yang dipakai bahan baku pabrik gula. Di era 70 hingga 80 an, karena lahan tebu masih banyak dan penduduk juga masih jarang jarang maka terhamparlah kebon tebu di tengah perkampungan. Sebut saja di wilayah Solo selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo. Bisa dikatakan sekitar wilayah ponpes Ngruki saat ini hingga Waringinrejo.

Satuan keamanan CB ini atau sebut saja CB Mandor amat ditakuti anak anak yang gemar mengambil sisa sisa tebu yang masih ada usai panen raya. Meski demikian, tak membuat jera ( kapok ) anak anak untuk memanfaatkan tebu yang masih organik tanpa banyak bahan kimia saat musim tanam alias natural atau alamiah karena lahan itu memang cocok dan cukup untuk pengadaan pabrik gula setempat. Kami sendiri bisa dibilang tak banyak lakukan ini, hehehehe .....namun masih ingat sekitar 5X memanfaatkan waktu luang usai sekolah. Yang bikin ngeri bila pas ambil meski sekedar potongan/ tak utuh batangan tebu, maka CB Mandor ini langsung bunyikan peluit untuk lakukan pengejaran manual/ kaki dan sepeda. Inilah sekelumit kisah yang melatarbelakangi tulisan Antara CB Motor & CB Mandor

inzet gambar : pabrikgulamini.blogspot.co.id

Panen Tebu Zaman Doeloe

Belum banyak digunakan sepeda motor, karena memang lahannya mudah dan cukup dengan sepeda. Kecuali untuk lahan besar, mungkin sudah dikaryakan sepeda motor dinas seperti Honda XL 125. Bila ada yang ketangkap, hukumannya juga lokal ( langsung di tempat ). Namanya anak anak, kadang alasannya bisa melampaui alasannya wanita ( ada saja untuk merengek rengek ) agar lolos dari hukuman berupa : lari lari, push up hingga tak boleh pulang hingga sore sekitar jam 17.00. Saat itu juga lampu/ listrik masih terbatas, bila magrib tiba orang tua sudah gelisah bilamana anak anak belum pulang dan biasanya tempat pelampiasannya adalah masjid atau lapangan bola. Jika tidak ada, bisa ditebak perkiraan orang tua, pasti cari tebu di wilayah selatan.

Ada yang unik dan mungkin cukup berharaga untuk sebuah nilai pemerataan. Anak anak yang berhasil bawa pulang tebu tebu ini, misal 5 batang atau lebih. Kampung kapung yang dilewatinya, akan dicegat anak anak juga untuk saling berbagi hingga sampai rumah paling paling bisa menyisakan 1 batang saja. Hal ini sudah berlangsung bertahun tahun dan demikian perlakuannya, bila tak mau berbagai bisa dipastikan akan terjadi kelahi dan aturannya tangan kosong. Mungkin tak perlu bertanya " hukumnya bagaimana ". yang jelas dengan adanya CB Mandor tebu ini cukup mengisi hari hari hingga lahan lahan itu menjadi lahan perumahan, yang sekarang bisa disaksikan adanya perumahan cukup padat. Namun siapa sangka, dulunya adalah sejarah penting buat anak anak untuk menjadi kenangan & pelajaran persaudaraan antar kampung. Tanpa disadari, anak anak yang tumbuh hingga pemuda antar kampung itu saling mengenal dan akhirnya tak sedikit yang menemukan jodohnya, karena kisah CB Mandor yang sudah mulai dilupakan saat ini.

0 komentar: